Jumat, 16 Juni 2017

Kisah Alice si Peri Kecil

Kisah Alice si Peri Kecil


 
sumber gambar : desaingrafis987.blogspot.co.id/

Pada suatu hari di kerajaan peri "Augwal Junaugust", hiduplah seorang peri kecil bernama Alice yang tinggal bersama ibunya. Mereka hidup bahagia meski hanya berdua. Suatu ketika, Alice pergi mencari obat ke dalam hutan untuk mengobati luka akibat salah satu sayapnya patah. Tiba-tiba muncul lah seorang peri tua di depannya. Alice pun sangat terkejut dengan kedatangan peri tua tersebut yang secara tiba-tiba berdiri di depannya. 

"Siapa kau?", teriak Alice dengan suara yang ketakutan dan kaki gemetar. 
Sang peri tua mendekati Alice secara perlahan, dan mencoba meyakinkan Alice bahwa dirinya bukanlah peri jahat. 
"Tenanglah, nak... Aku bukanlah peri jahat. Aku tidak akan melukaimu. Jadi, tenanglah!". 
Beberapa saat setelah melihat Alice tenang dan mengerti akan penjelasannya, peri tua itu bertanya kepada Alice. 
"Ada apa dengan sayapmu, nak?" 
Dengan perlahan Alice menceritakan tentang bagaimana ia kehilangan sayap kanannya. 
"Ketika itu, aku sedang mencari buah-buahan di hutan yang jauh dari kerajaan. Tetapi, saat aku sedang memetik buah, ada seorang peri buruk rupa yang menawarkan diri untuk membantuku. Dan aku pun menerima bantuannya tanpa berpikir panjang. Ternyata, tanpa ku ketahui dia memiliki niat yang jahat untuk merebut sayap kananku. Ketika aku sedang memetik buah di pohon yang lain dalam posisi yang membelakanginya, ia menarik sayap kananku yang menyebabkan aku limbung dan terjatuh ke dalam jurang. Tubuhku terhempas ke atas bebatuan yang ada di dinding jurang, sedangkan sayap kananku mengenai batang pohon yang tumbang sehingga menyebabkan sayapku patah. Wajahku menengadah ke bawah, dan melihat bahwa sayap kananku tlah patah dan terjatuh ke dalam jurang. Kemudian si peri buruk rupa mengambil dan membawa pergi sayap kananku. Entah ke mana perginya, aku pun tak tahu. Sesaat setelah sayapku patah, aku pun jatuh pingsan. Aku bangun dari pingsanku pada saat malam hari dengan bulan yang menerangi malam. Dengan susah payah aku mencoba bangkit dari sana dan memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena sayapku tlah patah. Jadi, begitulah ceritanya bagaimana aku bisa kehilangan sayapku, nek."
"Wah..  kasihan sekali kau, nak! Aku tahu ada obat yang bisa menumbuhkan kembali sayap patahmu itu.", beritahu si peri tua. 
"Sungguh? Benarkah? Di mana kah obat itu berada?", tanya Alice kegirangan karena mendengar ada obat yang dapat menumbuhkan kembali sayapnya yang tlah patah itu.
"Ya. Tetapi, reaksi obat itu sangatlah lambat. Dan membutuhkan waktu selama sepuluh tahun untuk dapat menymbuhkan kembali sayapmu itu. Obat itu berada di dalam hutan belantara yang jauh dari kerajaan Augwal Junaugust. Tepatnya ada di hutan belantara yang berada di sebelah timur kerajaan Augwal Junaugust. Butuh waktu satu hari untuk sampai ke sana, nak. Dan juga kau harus mencari sendiri obatmu itu, tidak boleh ditemani oleh orang lain.", jawab sang peri tua.
"Baiklah, terima kasih banyak, nek. Aku pasti akan menemukan obat untuk sayapku dan kembali dengan selamat. Aku yakin jika sayapku bisa tumbuh kembali meskipun dalam kurun waktu yang sangat lama aku akan tetap menantinya dengan sabar.", sahut Alice dengan mantap. 
 Mendengar kabar yang membahagiakan itu Alice pun langsung pulang menuju rumahnya untuk memberitahu ibunya akan hal itu. Sesampainya di rumah, Alice menceritakan tentang obat itu kepada ibunya (ibu peri, red). 
"Ibu peri, aku ada kabar bahagia!", tukas Alice dengan nada gembira. 
"Astagaa.... Alice, kau membuat ibu kaget saja. Memangnya ada kabar bahagia apa, nak?", tanya ibu peri. 
"Ibuuu.... sebentar lagi aku akan kembali punya sayap, bu! Sayap kananku akan kembali tumbuh!", sahut Alice. 
"Apakah benar kalau sayap patahmu itu bisa tumbuh kembali, nak? Lalu, bagimana caranya?", sahut ibu dengan bahagia. 
"Iya benar, ibu peri. Tadi pada saat aku sedang mencari buah di dalam hutan, aku bertemu dengan seorang peri tua. Peri tua itu memberitahuku apabila ada obat yang bisa menumbuhkan kembali sayap patahku. Tetapi, obat itu ada di dalam hutan belantara yang jauh dari kerajaan peri Augwal Junaugust, tepatnya ada di sebelah timur kerajaan kita. Aku ingin sekali ke sana, bu! Aku ingin sekali untuk mendapatkan obat itu! Aku mohon izinkan aku untuk pergi mencarinya, bu. Aku mohon, ibu peri!", Alice menjabarkan semuanya dan memohon izin kepada ibu peri untuk pergi mencarinya. 
"Baiklah. Ibu mengizinkanmu, nak. Pergilah besok pagi setelah sarapan!", jawab ibu peri yang mengizinkan Alice untuk pergi esok hari. 
"Baik, bu! Terima kasih, ibu peri!", jawab Alice dengan bahagia. 
"Cit..cit..ciit..", terdengar suara kicauan burung yang burung yang hinggap di pepohonan. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding. Alice terbangun dari tidurnya, mencium aroma masakan terenak di dunia. 
"Hmmm... enaknyaa... ibu peri pasti sedang memasak. Aku mau membantunya ah!", gumam Alice dalam hati seraya bangun dari tidurnya. 
Beberapa saat setelah selesai memasak, Alice dan ibu peri menuju ke meja makan untuk sarapan. Usai sarapan, Alice langsung berangkat menuju hutan belantara tempat di mana obat untuk sayapnya itu berada. 
Alice berangkat seorang diri, menyusuri hutan belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar dan rindang. Alice tak tau di mana letak obat itu. Kemudian ia bertemu dengan seorang peri yang tampan bak pangeran. Alice pun kebingungan dan mencoba bertanya kepada peri tampan itu. 
"Hallo.. permisi.. namaku Alice, aku sedang mencari obat yang dapat menumbuhkan kembali sayap kananku yang patah. Apakah kau tau di mana tempatnya? Jika kau mengetahuinya, aku mohon beritahu aku", tanya Alice kepada peri tampan itu. 
"Perkenalkan namaku Hafzar, aku seorang pangeran di kerajaan peri Kapehi. Oo.. jadi kau sedang mencari obat itu ya? Hmm... aku tahu di mana obat itu berada, tetapi sayang sekali obat itu hanya ada satu di dunia peri ini. Dan obat itu pun sudah ada yang memakainya. Jadi, obat itu sekarang sudah tidak ada lagi", jawab Hafzar dengan gamblang. 
"Apa? Sudah tidak ada lagi???", jawab Alice dengan suara berar karena menahan tangis. Air mata pun keluar perlahan-lahan keluar dari pelupuk mata dan mengalir melewati pipi dan akhirnya jatuh ke tanah. Alice semakin tak bisa membendung air matanya. Ia sangat kecewa dan sedih. Mengerti akan kesedihan dan kekecewaan Alice, akhirnya Hafzar pun memutuskan untuk memberikan sesuatu yang dirasa sangat berharga dan berarti bagi Alice. 
"Kau tak perlu bersedih lagi. Aku ada hadiah untukmu. Mohon terimalah hadiahku ini. Semoga kau menyukainya. Aku mohon dengan sangat agar kau dapat menjaganya dengan sangat baik, dan jangan kau khianati dia. Berjanjilah kau akan terus setia bersamanya.", ujar Hafzar. 
Alice kelihatan sangat kebingungan akan hadiah apa yang akan pangeran peri berikan kepadanya. Ia terus bertanya-tanya dalam hati. 
"Hadiah apa itu pangeran?", sahut Alice. 
"Tutuplah matamu. Kemudian aku akan memberikan hadiah itu untukmu.", tukas Hafzar. 
"Baiklah", jawab Alice masih dengan rasa penasarannya. Dan kemudian menutup matanya. 
"Sekarang bukalah matamu. Ini hadiah untukmu", ujar Hafzar. 
"Sayap?? Sayap siapa itu, pangeran? Indah sekali sayap itu.. sungguh indah. Aku belum pernah melihat sayap seindah ini.", tanya Alice karena terkagum. 
"Itu sayapku. Mulai sekarang, akan aku percayakan sayapku ini padamu. Mohon jagalah dia. Setialah kepadanya.", jawab Hafzar. 
"Sungguh? Sayap ini untukku?? Terima kasih banyak pangeran. Aku sangat berterimakasih padamu. Aku berjanji untuk selalu menjaganya dan akan setia kepadanya. Aku janji!", senyum sumringah terpancar dari wajah Alice. 
"Tapi..bagaimana denganmu, pangeran? Sayapmu berkurang satu.", tukas Alice cemas. 
"Tidak apa. Tenanglah, meski kini aku hanya punya satu sayap, aku masih bisa terbang tinggi. Tidak sepertimu yang baru bisa terbang jika hanya punya dua sayap. Jadi, jangan khawatir!", jawab Hafzar mencoba meyakinkan dan menenangkan Alice. 
"Baiklah. Kalau begitu aku akan pulang kembali ke rumahku sebelum hari gelap. Terima kasih, pangeran Hafzar.", pamit Alice untuk pulang.
         Kehidupan baru yang didapat dari seorang pangeran peri bernama Hafzar yang telah memberikan sayap kanannya kepada Alice. Alice sangat bahagia bisa terbang bersama sayap barunya itu. Sayap baru itu diberinama Fizhar oleh Alice. Fizhar merupakan sebuah sayap ajaib yang memiliki perasaan dan bisa mengungkapkannya melalui lukisan di permukaan sayap. Beberapa hari setelah Fizhar menjadi sayapnya, Alice dan Fizhar mengikrarkan janji bahwa akan saling setia satu sama lain. Alice berjanji setia kepada Fizhar untuk terus menjaga perasaannya hanya untuk Fizhar sang sayap barunya, dan berjanji tidak akan mencoba mendekati maupun menginginkan sayap lain selain Fizhar. Begitu pula dengan Fizhar, yang berjanji setia untuk menjadi sayap bagi Alice, berjanji untuk terus terbang bersama Alice, menjaga perasaan sang pemiliknya, dan berjanji setia untuk tidak mencoba mendekati peri lain agar menjadi pemilik atas dirinya.
Waktu terus berjalan, hari berganti hari, siang dan malam silih berganti. Beberapa bulan mereka bersama menjalani kisah hidup yang bahagia, Fizhar masih setia menemani Alice sebagai sayapnya. Hingga pada suatu hari peristiwa kelabu itu terjadi, di mana Fizhar pernah bertemu dengan peri kecil bernama "Widy" di hutan belantara saat Fizhar terbang bersama Alice untuk mencari buah-buahan. Awalnya yang pertamakali tertarik ialah Widy, Widy tertarik kepada keindahan dan kemampuan Fizhar sebagai sayap ajaib yang mampu melukiskan perasaannya sendiri ke permukaan sayapnya. Dengan bahasa isyarat, Widy mencoba mendekati Fizhar sang sayap ajaib untuk mengajarinya bagaimana cara menjadikan sayapnya agar bia seperti Fizhar. Fizhar menangkap isyarat itu, dan dengan bahasa isyarat juga Fizhar mengajari Widy tanpa sepengetahuan pemiliknya. Hari demi hari Fizhar mulai menanamkan rasa kecanduan dalam mencari buah-buahan di hutan kepada Alice melalui rekatan sayap di punggungnya, semua hal itu dilakukan agar Alice membawa Fizhar ke dalam hutan dan otomatis Fizhar dapat kembali berjumpa dengan Widy meskipun menggunakan bahasa isyarat melalui lukisan di permukaan sayapnya. 
Hingga suatu hari Alice merasa aneh akan dirinya sendiri yang sebelumnya belum pernah kecanduan mencari buah-buahan di hutan setiap hari. Akhirnya Alice pun menyadari bahwa Fizhar sedang mengajarkan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kepada seorang peri kecil yang sering ia lihat berkeliaran di dalam hutan. Awalnya Alice merasa sedikit kesal, mengapa Fizhar menyembunyikan hal itu. Tetapi, Alice pun akhirnya tidak memasukkan ke dalam hati akan perilaku Fizhar terhadap dirinya. Alice menganggap hal itu masih dalam batas normal, karena mengajari seseorang akan pengetahuan itu merupakan hal yang baik. 
Bulan demi bulan pun berlalu, Alice dan Fizhar terus terbang tinggi menjelajahi seluruh pelosok negeri. Namun, tak disangka apabila Fizhar masih terus saja memberikan bahasa-bahasa isyarat kepada Widy dan semua hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan Alice. Karena, Alice menganggap jika Fizhar telah selesai mengajarkan Widy untuk melatih sayapnya agar bisa berubah menjadi sayap ajaib seperti Fizhar. Hal itu diketahui Alice pada saat ia dan Fizhar terbang bersama di hutan kerajaan lain, Alice mendapati Fizhar mengeluarkan lukisan dan tulisan yang berisikan pesan ketertarikan Fizhar kepada Widy. Di permukaan sayap Fizhar pun tertulis bahwa mereka seringkali berkomunikasi melalui bahasa isyarat antar sayap (Fizhar dengan sayapnya Widy). Komunikasi mereka pun sudah sangat intens, hal ini ditandai dengan diberikannya alamat sang pemilik Fizhar sebelumnya yaitu Hafzar. Dan juga ada komentar dari Widy yang mengatakan "Ih lucunya sayapmu" kepada Fizhar. 
Dan didapati pula oleh Alice sebuah lukisan wajah sang peri kecil bernama Widy yang disimpan Fizhar di sebuah penyimpanan di bawah sayapnya. Sungguh, saat itu hati Alice sangat hancur, ia sangat kecewa karena mendapati sayap kanannya yaitu Fizhar ingin menjadi milik peri lain yaitu Widy. Fizhar mengingkari janjinya sendiri yang tlah berjanji setia untuk menjadi sayap bagi Alice, berjanji untuk terus terbang bersama Alice, menjaga perasaan sang pemiliknya, dan berjanji setia untuk tidak mencoba mendekati maupun menginginkan peri lain agar menjadi pemilik atas dirinya. Padahal Alice terus saja memegang erat janjinya sendiri kepada Fizhar, ia selalu menjaga perasaanya hanya untuk Fizhar sang sayapnya, dan ia pun tidak pernah sesekali menginginkan sayap lain sebagai pengganti sayap kanannya di kala Fizhar sedang sakit dan tidak bisa menemaninya terbang bersama. Alice tak tahu, apa yang salah dari dirinya. Padahal ia terus menjaga kepercayaan Fizhar sang sayapnya. Ia juga terus bersabar menghadapi tingkah Fizhar yang selalu saja memiliki ketertarikan terhadap peri selain dirinya. 
Semakin hari Fizhar semakin memberontak untuk pergi dari Alice dan berpindah kepada Widy. Dan di sisi lain, Widy pun menginginkan hal yang sama, yaitu menginginkan Fizhar untuk menjadi sayapnya. Widy terus saja mencoba merebut Fizhar sang sayap ajaibku yang terus menerus kujaga perasaanya dan kepercayaan sang pemiliknya dahulu.
Namun, kini Fizhar sudah menjadi milik Widy. Widy berhasil merebut Fizhar dari punggung Alice, dan Fizhar pun berhasil pergi dari Alice. 
     Kini hati Alice sangat hancur. Betapa tidak? Sayap yang dahulu selalu ia jaga perasaannya, dan sampai saat ini perasaan Alice pun masih dijaga untuknya, namun ia begitu tega mengingkari janjinya sendiri dan berpindah ke lain peri tanpa memikirkan perasaan Alice. Kini Alice hidup hanya dengan satu sayap saja dan sayap itupun juga patah serta terluka dan mengeluarkan banyak darah. Sungguh, tak terbayangkan bagaimana sakit yang dirasakan oleh Alice.  
      Fizhar hanya mementingkan peri yang hanya bisa mengajarinya sesuatu. Namun, disaat Alice tak berdaya untuk mengajarinya sesuatu hal yang tidak ia tahu, Fizhar pun meninggalkannya begitu saja tanpa memikirkan rasa sakit yang Alice rasakan akibat cinta  dan kesetiaan yang pernah dijanjikannya kepada Alice. Dan ternyata benar apa kata ibu peri, bahwa Fizhar hanya memanfaatkan Alice saja. Di saat Fizhar sudah mendapatkan "guru" baru untuk mengajarinya sesuatu maka ia berpindah ke lain peri dan mencintai peri lain yang sedang menjadi "guru" baginya.
         Setelah kejadian di hari kelabu itu, Alice mencoba mengepakkan kembali sayapnya yang patah untuk terbang setinggi mungkin. Sayap patah yang sakit, pedih dan penuh luka berdarah. Sangat sakit, tetapi Alice mencoba untuk bangkit dari sebuah mimpi buruk di kehidupan nyata. 
    Matahari bersinar dengan begitu redupnya seakan mengerti rasa sakit yang teramat sangat yang Alice rasakan. Matahari seakan mengerti suasana hati Alice. Biru...kelabu... bagai mendung pertanda hujan akan turun. Suara petir menggelegar dengan begitu kerasnya. Menyambar-nyambar setiap benda yang ada. Matahari semakin tak terlihat dan tertutup awan gelap. Dan kini hanya awan gelap lah yang menjadi penghias langit di atas sana. 
       Hari-hari begitu gelap dan kelabu bagai tak ada senyum dan canda tawa di kerajaannya. Semakin lama awan hitam berkumpul menghiasi langit di atas kerajaan peri Augwal Junaugust. Rintik-rintik hujan pun mulai turun membasahi setiap benda yang ada di bawahnya, semakin lama semakin deras kucurannya. Hingga memperberat kepakkan sayap-sayap Alice yang patah. Namun, Alice tak pernah menyerah untuk bangkit dari mimpi buruk di kehidupan nyata. 
Satu pesan untuk Alice, "Terbanglah wahai peri kecil. Yakinlah, kau akan bisa terbang bebas ke segala penjuru dunia. Mengobati rasa sakit atas lukamu yang diciptakan oleh peri dan sayap itu. Dan jangan pernah lagi kau berharap kepada sayap yang hanya merupakan ciptaan-Nya dan hanya bisa menggoreskan luka. Tetapi, berharaplah kepada Allah SWT yang telah menciptakaan dunia dan seisinya. Karena, Allah SWT tak akan pernah mengkhianati, menyakiti, maupun mengecewakanmu, melainkan ia akan menyayangimu, mengasihimu dengan penuh kelembutan, dan menjaga dirimu serta perasaanmu agar tak terluka. Terbanglah! Bangkitlah! Terbanglah bebas wahai peri kecilku. Terbanglah bebas melampaui batas!".

Catatan : 
1. Fizhar adalah sayap ajaib yang bisa mengungkapkan perasaannya melalui lukisan maupun tulisan di permukaan sayapnya. 

Cilacap, 13 Juni 2017 

0 komentar:

Posting Komentar