• />

    Resep Perkedel Tahu Jamur

  • Hutan

  • Seniorku Pacarku

  • C++ Program Konversi Detik Ke Jam, Menit, dan Detik

  • Buah Strawberry yang sangat menyegarkan

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juni 2017

Kisah Alice si Peri Kecil

Kisah Alice si Peri Kecil


 
sumber gambar : desaingrafis987.blogspot.co.id/

Pada suatu hari di kerajaan peri "Augwal Junaugust", hiduplah seorang peri kecil bernama Alice yang tinggal bersama ibunya. Mereka hidup bahagia meski hanya berdua. Suatu ketika, Alice pergi mencari obat ke dalam hutan untuk mengobati luka akibat salah satu sayapnya patah. Tiba-tiba muncul lah seorang peri tua di depannya. Alice pun sangat terkejut dengan kedatangan peri tua tersebut yang secara tiba-tiba berdiri di depannya. 

"Siapa kau?", teriak Alice dengan suara yang ketakutan dan kaki gemetar. 
Sang peri tua mendekati Alice secara perlahan, dan mencoba meyakinkan Alice bahwa dirinya bukanlah peri jahat. 
"Tenanglah, nak... Aku bukanlah peri jahat. Aku tidak akan melukaimu. Jadi, tenanglah!". 
Beberapa saat setelah melihat Alice tenang dan mengerti akan penjelasannya, peri tua itu bertanya kepada Alice. 
"Ada apa dengan sayapmu, nak?" 
Dengan perlahan Alice menceritakan tentang bagaimana ia kehilangan sayap kanannya. 
"Ketika itu, aku sedang mencari buah-buahan di hutan yang jauh dari kerajaan. Tetapi, saat aku sedang memetik buah, ada seorang peri buruk rupa yang menawarkan diri untuk membantuku. Dan aku pun menerima bantuannya tanpa berpikir panjang. Ternyata, tanpa ku ketahui dia memiliki niat yang jahat untuk merebut sayap kananku. Ketika aku sedang memetik buah di pohon yang lain dalam posisi yang membelakanginya, ia menarik sayap kananku yang menyebabkan aku limbung dan terjatuh ke dalam jurang. Tubuhku terhempas ke atas bebatuan yang ada di dinding jurang, sedangkan sayap kananku mengenai batang pohon yang tumbang sehingga menyebabkan sayapku patah. Wajahku menengadah ke bawah, dan melihat bahwa sayap kananku tlah patah dan terjatuh ke dalam jurang. Kemudian si peri buruk rupa mengambil dan membawa pergi sayap kananku. Entah ke mana perginya, aku pun tak tahu. Sesaat setelah sayapku patah, aku pun jatuh pingsan. Aku bangun dari pingsanku pada saat malam hari dengan bulan yang menerangi malam. Dengan susah payah aku mencoba bangkit dari sana dan memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki karena sayapku tlah patah. Jadi, begitulah ceritanya bagaimana aku bisa kehilangan sayapku, nek."
"Wah..  kasihan sekali kau, nak! Aku tahu ada obat yang bisa menumbuhkan kembali sayap patahmu itu.", beritahu si peri tua. 
"Sungguh? Benarkah? Di mana kah obat itu berada?", tanya Alice kegirangan karena mendengar ada obat yang dapat menumbuhkan kembali sayapnya yang tlah patah itu.
"Ya. Tetapi, reaksi obat itu sangatlah lambat. Dan membutuhkan waktu selama sepuluh tahun untuk dapat menymbuhkan kembali sayapmu itu. Obat itu berada di dalam hutan belantara yang jauh dari kerajaan Augwal Junaugust. Tepatnya ada di hutan belantara yang berada di sebelah timur kerajaan Augwal Junaugust. Butuh waktu satu hari untuk sampai ke sana, nak. Dan juga kau harus mencari sendiri obatmu itu, tidak boleh ditemani oleh orang lain.", jawab sang peri tua.
"Baiklah, terima kasih banyak, nek. Aku pasti akan menemukan obat untuk sayapku dan kembali dengan selamat. Aku yakin jika sayapku bisa tumbuh kembali meskipun dalam kurun waktu yang sangat lama aku akan tetap menantinya dengan sabar.", sahut Alice dengan mantap. 
 Mendengar kabar yang membahagiakan itu Alice pun langsung pulang menuju rumahnya untuk memberitahu ibunya akan hal itu. Sesampainya di rumah, Alice menceritakan tentang obat itu kepada ibunya (ibu peri, red). 
"Ibu peri, aku ada kabar bahagia!", tukas Alice dengan nada gembira. 
"Astagaa.... Alice, kau membuat ibu kaget saja. Memangnya ada kabar bahagia apa, nak?", tanya ibu peri. 
"Ibuuu.... sebentar lagi aku akan kembali punya sayap, bu! Sayap kananku akan kembali tumbuh!", sahut Alice. 
"Apakah benar kalau sayap patahmu itu bisa tumbuh kembali, nak? Lalu, bagimana caranya?", sahut ibu dengan bahagia. 
"Iya benar, ibu peri. Tadi pada saat aku sedang mencari buah di dalam hutan, aku bertemu dengan seorang peri tua. Peri tua itu memberitahuku apabila ada obat yang bisa menumbuhkan kembali sayap patahku. Tetapi, obat itu ada di dalam hutan belantara yang jauh dari kerajaan peri Augwal Junaugust, tepatnya ada di sebelah timur kerajaan kita. Aku ingin sekali ke sana, bu! Aku ingin sekali untuk mendapatkan obat itu! Aku mohon izinkan aku untuk pergi mencarinya, bu. Aku mohon, ibu peri!", Alice menjabarkan semuanya dan memohon izin kepada ibu peri untuk pergi mencarinya. 
"Baiklah. Ibu mengizinkanmu, nak. Pergilah besok pagi setelah sarapan!", jawab ibu peri yang mengizinkan Alice untuk pergi esok hari. 
"Baik, bu! Terima kasih, ibu peri!", jawab Alice dengan bahagia. 
"Cit..cit..ciit..", terdengar suara kicauan burung yang burung yang hinggap di pepohonan. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah dinding. Alice terbangun dari tidurnya, mencium aroma masakan terenak di dunia. 
"Hmmm... enaknyaa... ibu peri pasti sedang memasak. Aku mau membantunya ah!", gumam Alice dalam hati seraya bangun dari tidurnya. 
Beberapa saat setelah selesai memasak, Alice dan ibu peri menuju ke meja makan untuk sarapan. Usai sarapan, Alice langsung berangkat menuju hutan belantara tempat di mana obat untuk sayapnya itu berada. 
Alice berangkat seorang diri, menyusuri hutan belantara yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang besar dan rindang. Alice tak tau di mana letak obat itu. Kemudian ia bertemu dengan seorang peri yang tampan bak pangeran. Alice pun kebingungan dan mencoba bertanya kepada peri tampan itu. 
"Hallo.. permisi.. namaku Alice, aku sedang mencari obat yang dapat menumbuhkan kembali sayap kananku yang patah. Apakah kau tau di mana tempatnya? Jika kau mengetahuinya, aku mohon beritahu aku", tanya Alice kepada peri tampan itu. 
"Perkenalkan namaku Hafzar, aku seorang pangeran di kerajaan peri Kapehi. Oo.. jadi kau sedang mencari obat itu ya? Hmm... aku tahu di mana obat itu berada, tetapi sayang sekali obat itu hanya ada satu di dunia peri ini. Dan obat itu pun sudah ada yang memakainya. Jadi, obat itu sekarang sudah tidak ada lagi", jawab Hafzar dengan gamblang. 
"Apa? Sudah tidak ada lagi???", jawab Alice dengan suara berar karena menahan tangis. Air mata pun keluar perlahan-lahan keluar dari pelupuk mata dan mengalir melewati pipi dan akhirnya jatuh ke tanah. Alice semakin tak bisa membendung air matanya. Ia sangat kecewa dan sedih. Mengerti akan kesedihan dan kekecewaan Alice, akhirnya Hafzar pun memutuskan untuk memberikan sesuatu yang dirasa sangat berharga dan berarti bagi Alice. 
"Kau tak perlu bersedih lagi. Aku ada hadiah untukmu. Mohon terimalah hadiahku ini. Semoga kau menyukainya. Aku mohon dengan sangat agar kau dapat menjaganya dengan sangat baik, dan jangan kau khianati dia. Berjanjilah kau akan terus setia bersamanya.", ujar Hafzar. 
Alice kelihatan sangat kebingungan akan hadiah apa yang akan pangeran peri berikan kepadanya. Ia terus bertanya-tanya dalam hati. 
"Hadiah apa itu pangeran?", sahut Alice. 
"Tutuplah matamu. Kemudian aku akan memberikan hadiah itu untukmu.", tukas Hafzar. 
"Baiklah", jawab Alice masih dengan rasa penasarannya. Dan kemudian menutup matanya. 
"Sekarang bukalah matamu. Ini hadiah untukmu", ujar Hafzar. 
"Sayap?? Sayap siapa itu, pangeran? Indah sekali sayap itu.. sungguh indah. Aku belum pernah melihat sayap seindah ini.", tanya Alice karena terkagum. 
"Itu sayapku. Mulai sekarang, akan aku percayakan sayapku ini padamu. Mohon jagalah dia. Setialah kepadanya.", jawab Hafzar. 
"Sungguh? Sayap ini untukku?? Terima kasih banyak pangeran. Aku sangat berterimakasih padamu. Aku berjanji untuk selalu menjaganya dan akan setia kepadanya. Aku janji!", senyum sumringah terpancar dari wajah Alice. 
"Tapi..bagaimana denganmu, pangeran? Sayapmu berkurang satu.", tukas Alice cemas. 
"Tidak apa. Tenanglah, meski kini aku hanya punya satu sayap, aku masih bisa terbang tinggi. Tidak sepertimu yang baru bisa terbang jika hanya punya dua sayap. Jadi, jangan khawatir!", jawab Hafzar mencoba meyakinkan dan menenangkan Alice. 
"Baiklah. Kalau begitu aku akan pulang kembali ke rumahku sebelum hari gelap. Terima kasih, pangeran Hafzar.", pamit Alice untuk pulang.
         Kehidupan baru yang didapat dari seorang pangeran peri bernama Hafzar yang telah memberikan sayap kanannya kepada Alice. Alice sangat bahagia bisa terbang bersama sayap barunya itu. Sayap baru itu diberinama Fizhar oleh Alice. Fizhar merupakan sebuah sayap ajaib yang memiliki perasaan dan bisa mengungkapkannya melalui lukisan di permukaan sayap. Beberapa hari setelah Fizhar menjadi sayapnya, Alice dan Fizhar mengikrarkan janji bahwa akan saling setia satu sama lain. Alice berjanji setia kepada Fizhar untuk terus menjaga perasaannya hanya untuk Fizhar sang sayap barunya, dan berjanji tidak akan mencoba mendekati maupun menginginkan sayap lain selain Fizhar. Begitu pula dengan Fizhar, yang berjanji setia untuk menjadi sayap bagi Alice, berjanji untuk terus terbang bersama Alice, menjaga perasaan sang pemiliknya, dan berjanji setia untuk tidak mencoba mendekati peri lain agar menjadi pemilik atas dirinya.
Waktu terus berjalan, hari berganti hari, siang dan malam silih berganti. Beberapa bulan mereka bersama menjalani kisah hidup yang bahagia, Fizhar masih setia menemani Alice sebagai sayapnya. Hingga pada suatu hari peristiwa kelabu itu terjadi, di mana Fizhar pernah bertemu dengan peri kecil bernama "Widy" di hutan belantara saat Fizhar terbang bersama Alice untuk mencari buah-buahan. Awalnya yang pertamakali tertarik ialah Widy, Widy tertarik kepada keindahan dan kemampuan Fizhar sebagai sayap ajaib yang mampu melukiskan perasaannya sendiri ke permukaan sayapnya. Dengan bahasa isyarat, Widy mencoba mendekati Fizhar sang sayap ajaib untuk mengajarinya bagaimana cara menjadikan sayapnya agar bia seperti Fizhar. Fizhar menangkap isyarat itu, dan dengan bahasa isyarat juga Fizhar mengajari Widy tanpa sepengetahuan pemiliknya. Hari demi hari Fizhar mulai menanamkan rasa kecanduan dalam mencari buah-buahan di hutan kepada Alice melalui rekatan sayap di punggungnya, semua hal itu dilakukan agar Alice membawa Fizhar ke dalam hutan dan otomatis Fizhar dapat kembali berjumpa dengan Widy meskipun menggunakan bahasa isyarat melalui lukisan di permukaan sayapnya. 
Hingga suatu hari Alice merasa aneh akan dirinya sendiri yang sebelumnya belum pernah kecanduan mencari buah-buahan di hutan setiap hari. Akhirnya Alice pun menyadari bahwa Fizhar sedang mengajarkan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kepada seorang peri kecil yang sering ia lihat berkeliaran di dalam hutan. Awalnya Alice merasa sedikit kesal, mengapa Fizhar menyembunyikan hal itu. Tetapi, Alice pun akhirnya tidak memasukkan ke dalam hati akan perilaku Fizhar terhadap dirinya. Alice menganggap hal itu masih dalam batas normal, karena mengajari seseorang akan pengetahuan itu merupakan hal yang baik. 
Bulan demi bulan pun berlalu, Alice dan Fizhar terus terbang tinggi menjelajahi seluruh pelosok negeri. Namun, tak disangka apabila Fizhar masih terus saja memberikan bahasa-bahasa isyarat kepada Widy dan semua hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan Alice. Karena, Alice menganggap jika Fizhar telah selesai mengajarkan Widy untuk melatih sayapnya agar bisa berubah menjadi sayap ajaib seperti Fizhar. Hal itu diketahui Alice pada saat ia dan Fizhar terbang bersama di hutan kerajaan lain, Alice mendapati Fizhar mengeluarkan lukisan dan tulisan yang berisikan pesan ketertarikan Fizhar kepada Widy. Di permukaan sayap Fizhar pun tertulis bahwa mereka seringkali berkomunikasi melalui bahasa isyarat antar sayap (Fizhar dengan sayapnya Widy). Komunikasi mereka pun sudah sangat intens, hal ini ditandai dengan diberikannya alamat sang pemilik Fizhar sebelumnya yaitu Hafzar. Dan juga ada komentar dari Widy yang mengatakan "Ih lucunya sayapmu" kepada Fizhar. 
Dan didapati pula oleh Alice sebuah lukisan wajah sang peri kecil bernama Widy yang disimpan Fizhar di sebuah penyimpanan di bawah sayapnya. Sungguh, saat itu hati Alice sangat hancur, ia sangat kecewa karena mendapati sayap kanannya yaitu Fizhar ingin menjadi milik peri lain yaitu Widy. Fizhar mengingkari janjinya sendiri yang tlah berjanji setia untuk menjadi sayap bagi Alice, berjanji untuk terus terbang bersama Alice, menjaga perasaan sang pemiliknya, dan berjanji setia untuk tidak mencoba mendekati maupun menginginkan peri lain agar menjadi pemilik atas dirinya. Padahal Alice terus saja memegang erat janjinya sendiri kepada Fizhar, ia selalu menjaga perasaanya hanya untuk Fizhar sang sayapnya, dan ia pun tidak pernah sesekali menginginkan sayap lain sebagai pengganti sayap kanannya di kala Fizhar sedang sakit dan tidak bisa menemaninya terbang bersama. Alice tak tahu, apa yang salah dari dirinya. Padahal ia terus menjaga kepercayaan Fizhar sang sayapnya. Ia juga terus bersabar menghadapi tingkah Fizhar yang selalu saja memiliki ketertarikan terhadap peri selain dirinya. 
Semakin hari Fizhar semakin memberontak untuk pergi dari Alice dan berpindah kepada Widy. Dan di sisi lain, Widy pun menginginkan hal yang sama, yaitu menginginkan Fizhar untuk menjadi sayapnya. Widy terus saja mencoba merebut Fizhar sang sayap ajaibku yang terus menerus kujaga perasaanya dan kepercayaan sang pemiliknya dahulu.
Namun, kini Fizhar sudah menjadi milik Widy. Widy berhasil merebut Fizhar dari punggung Alice, dan Fizhar pun berhasil pergi dari Alice. 
     Kini hati Alice sangat hancur. Betapa tidak? Sayap yang dahulu selalu ia jaga perasaannya, dan sampai saat ini perasaan Alice pun masih dijaga untuknya, namun ia begitu tega mengingkari janjinya sendiri dan berpindah ke lain peri tanpa memikirkan perasaan Alice. Kini Alice hidup hanya dengan satu sayap saja dan sayap itupun juga patah serta terluka dan mengeluarkan banyak darah. Sungguh, tak terbayangkan bagaimana sakit yang dirasakan oleh Alice.  
      Fizhar hanya mementingkan peri yang hanya bisa mengajarinya sesuatu. Namun, disaat Alice tak berdaya untuk mengajarinya sesuatu hal yang tidak ia tahu, Fizhar pun meninggalkannya begitu saja tanpa memikirkan rasa sakit yang Alice rasakan akibat cinta  dan kesetiaan yang pernah dijanjikannya kepada Alice. Dan ternyata benar apa kata ibu peri, bahwa Fizhar hanya memanfaatkan Alice saja. Di saat Fizhar sudah mendapatkan "guru" baru untuk mengajarinya sesuatu maka ia berpindah ke lain peri dan mencintai peri lain yang sedang menjadi "guru" baginya.
         Setelah kejadian di hari kelabu itu, Alice mencoba mengepakkan kembali sayapnya yang patah untuk terbang setinggi mungkin. Sayap patah yang sakit, pedih dan penuh luka berdarah. Sangat sakit, tetapi Alice mencoba untuk bangkit dari sebuah mimpi buruk di kehidupan nyata. 
    Matahari bersinar dengan begitu redupnya seakan mengerti rasa sakit yang teramat sangat yang Alice rasakan. Matahari seakan mengerti suasana hati Alice. Biru...kelabu... bagai mendung pertanda hujan akan turun. Suara petir menggelegar dengan begitu kerasnya. Menyambar-nyambar setiap benda yang ada. Matahari semakin tak terlihat dan tertutup awan gelap. Dan kini hanya awan gelap lah yang menjadi penghias langit di atas sana. 
       Hari-hari begitu gelap dan kelabu bagai tak ada senyum dan canda tawa di kerajaannya. Semakin lama awan hitam berkumpul menghiasi langit di atas kerajaan peri Augwal Junaugust. Rintik-rintik hujan pun mulai turun membasahi setiap benda yang ada di bawahnya, semakin lama semakin deras kucurannya. Hingga memperberat kepakkan sayap-sayap Alice yang patah. Namun, Alice tak pernah menyerah untuk bangkit dari mimpi buruk di kehidupan nyata. 
Satu pesan untuk Alice, "Terbanglah wahai peri kecil. Yakinlah, kau akan bisa terbang bebas ke segala penjuru dunia. Mengobati rasa sakit atas lukamu yang diciptakan oleh peri dan sayap itu. Dan jangan pernah lagi kau berharap kepada sayap yang hanya merupakan ciptaan-Nya dan hanya bisa menggoreskan luka. Tetapi, berharaplah kepada Allah SWT yang telah menciptakaan dunia dan seisinya. Karena, Allah SWT tak akan pernah mengkhianati, menyakiti, maupun mengecewakanmu, melainkan ia akan menyayangimu, mengasihimu dengan penuh kelembutan, dan menjaga dirimu serta perasaanmu agar tak terluka. Terbanglah! Bangkitlah! Terbanglah bebas wahai peri kecilku. Terbanglah bebas melampaui batas!".

Catatan : 
1. Fizhar adalah sayap ajaib yang bisa mengungkapkan perasaannya melalui lukisan maupun tulisan di permukaan sayapnya. 

Cilacap, 13 Juni 2017 

Jumat, 24 April 2015

Cerpen - NEW FRIENDS

NEW FRIENDS

Ini adalah sebuah cerita tentang sahabat baru Alexa di perkuliahan.
Cekidootttttttttt... langsung aja ya ceritanya daripada bikinpenasaran nanti dosa lagi aku nya ^_^ :D hihii..

        Pada suatu massa dimana saat Mahasiswa Baru (MaBa) berkeliaran di sekitar lingkungan kampus yang dimana kampus itu ialah tempat barunya untuk belajar hal baru yang tak ia dapatkan dibangku SMA maupun SMK. Hari itu tepatnya hari senin, 1 september 2014. Dimana Maba Universitas Melati di Yogyakarta baru memasuki masa perkuliahan untuk pertamakalinya. Dalam suatu kelas Prodi Teknik Informatika UMEL, terlihat berpuluh-puluh Maba UMEL duduk manis sembari memahami situasi dalam dunia kampus. Disana terlihat hanya beberapa orang saja yang baru saling kenal. Lain halnya dengan tiga anak asal dari Jawa Tengah itu, Alexa, Reni dan Yuli. Mereka berasal dari provinsi, kabupaten, kecamatan dan kampung yang sama. Mereka bertiga adalah teman sedari TK yang berpisah mulai dari SD, yang kemudian Alexa dan Reni berada pada satu SMP yang sama, sedangkan Yuli bersekolah disalah satu SMP di kota. Alexa dan Reni masih punya hubungan darah atau yang bsa dibilang keluarga. Mereka mempunyai satu nenek dan kakek yang sama. Mereka berhubungan keluarga, Reni dari ibunya, Alexa dari ayahnya. Ayah dari Alexa dan Ibu dari Reni adalah kakak beradik. Tapi bukan silsilah keluarga ini yang ingin saya ceritakan. Melainkan, tentang kisah sahabat baru mereka diperkuliahan.

        Tanpa ada bel berbunyi tiba pukul 08.00, pertanda kuliah perdana bagi maba UMEL akan segera dimulai. Semua mahasiswa sudah berkumpul di kelas masing-masing. Khususnya di kelas D, yaitu kelas Alexa, Reni dan Yuli. Semua mahasiswa sudah duduk rapi pada kursi yang tersedia di dalam kelas. Alexa, Reni dan Yuli duduk di barisan tengah deretan kursi nomor dua dari depan. Mereka bertiga masih belum berani berkenalan dengan teman-teman barunya. Situasi pada saat itu ialah ada segerombolan cewek yang duduk di deretan paling kiri menghadap ke papan tulis. Di belakangnya ada segerombolan cowok juga yang duduk disitu. Matakuliah perdana untuk hari senin itu adalah kalkulus informatika dan Pengantar Teknologi Informasi (PTI). Semua matakuliah perdana dari hari senin sampai dengan hari sabtu diisi dengan intermezo semua, hanya sekedar untuk perkenalan bagi dosen tentang matakuliah yang akan beliau-beliau ajarkan kepada para mahasiswanya.

        Hari berganti hari, jam terus berganti, menit dn detik terus berjalan, siang dan malam silih berganti. Tiba dimana saat segerombolan mahasiswa dari jawa tengah itu mengenal teman yang ada di sekitar mereka. Dan yang pada akhirnya si Alexa memutuskan untuk duduk di belakang segerombolan mahasiswi dari berbagaimacam asal di negeriku Indonesia untuk mengenal lebih dekat teman perempuan yang serupa geng tersebut. Alexa mengutarakan niatnya itu kepada Reni sanak-saudaranya sendiri yang bisa dibilang sebagai adik sepupunya. Reni pun mengangguk pertanda ia menyetujui niat Alexa agar bisa berteman dengan mereka. Singkat cerita dan pada akhirnya Alexa dan Reni sudah berteman dengan segerombolan mahasiswi itu. Alexa dan Reni mulai masuk ke dunia mereka.
       
        Suatu saat ada salah satu dari mereka yang berulang tahun yaitu si Oka asal dari Pulau Sumatera. Dikarenakan ada usul dari cewek asal tetangga kabupaten Cilacap untuk memberi kejutan kue ulangtahun dan kado untuk si Oka, geng cewek itu patungan untuk membeli kado dan kue ulangtahun untuk sahabat mereka. (pada saat itu si Oka udah janji bahwasannya Oka mau men-traktirmereka semua untuk mkan di Pizza Hutt (PH). Pergilah mereka semua ke PH dengan jalan yang ditunjukkan oleh Dita. Naik motor berboncengan. Sesampainya di PH mereka semua memesan jenis Pizza yang mereka inginkan dengan minumannya juga sekalian mereka pesan. Sebelum makan, tak ketinggalan ajakkan dari si Miss Eksis di geng cewek tersebut untuk berfoto-foto ria, dengan meminta bantuan dari si mas pengantar Pizza Hutt itu. Posenya alay-alay tak terkecuali Alexa pun juga. Ada yang diantara mereka ada yang berfoto selfie la, minta difotoin lah, sampai-sampai ada yang ke “cut”gambarnya gara-gara saking banyaknya yang ingin foto selfie tanpa TONGSIS (Tongkat Narsis) secara bersama-sama menggunakan Handphone milik Angel. Selesai berfoto ria, merekan melahap habis Pizza Hutt yang mungin baru pertamakali mereka memakannya. Tak perlu banyak waktu dalam sekejap Pizza Hutt sudah habis dan masuk kedalam perut. Mereka pulang dengan perut gendut :D .
       
        Sesampainya di rumah Megi yang akrab dipanggil “emak” oleh para anak asuhnya yang ia dapat di perkuliahan, Alexa dan Miss Eksis mengambil kue ulangtahun yang kemidian dinyalakan di dapur kost emak itu.

BERSAMBUNG  . . . . . . . . . . . . . .


Selasa, 10 Maret 2015

Cerpen - Seniorku Pacarku

Seniorku Pacarku
by : Sri Wahyuni




          Like, like, like, like…
Gue like semua yang ada di beranda gue. Hingga gue lihat pertemanan, ada satu cowok ganteng cenderung jelek yang nge-add facebook gue. Terus gue confirm dech….
Setelah gue lihat-lihat, nampaknya kayak senior Pramuka gue tuh. Lalu, gue buka deh profil facebook-nya.
Dannn…
Ternyataaaa… BENAR!!! Dia tuh senior gue.
O iya… kenalin nama gue Vera Kusuma Atmaja. Gue sekolah di SMA TUNAS BANGSA, Jawa Barat. Sekarang gue duduk di bangku kelas XII Jurusan Bahasa. Kali ini gue akan bercerita tentang sebuah kisah di bangku kelas XI gue dulu. Yang nggak akan pernah gue lupain setiap urutan kejadiannya seumur hidup gue.
Gue tuh punya senior PRAMUKA yang umurnya terpaut dua tahun dari umur gue. Kalo dibilang dia lebih tua dari gue siihh…. Emang tua yah. Tapi ya nggak tua-tua amat tuh. Bo dy-nya tuh tinggi, putih dan bisa dibilang body-nya tuh atletis juga (insyaallah… hehehe. Soalnya, gue lihat dari foto-fotonya di facebook waktu dia habis berenang di sungai sama temannya). Kayak atlet lomba balap karung tuh yang biasanya ada di waktu perayaan 17-an di rumah gue.
Katanya sih, tuh orang lumayan pinter. Namanya Surya Widyodiningrat. Wahahaa… kayak nama orang keraton aja yah.                        Tapi itulah nama pemberian dari nyokap-bokap dia.
Langsung ajah lanjut ceritanya.
CEKIDOOOOOTTTTT….
Setelah beberapa hari berteman di dunia maya. Saat itu tepatnya tanggal 24 Januari 2013, si Surya ng-inbox fb gue. Yah… yang isinya basa-basi lah… namanya juga cowok. Hehehe….   
      Ini dia isi pesan fb yang dia inbox-in ke gue.
“Gimana kabar PRAMUKA SMATUBA de?”
Dengan rasa hormat yang tinggi terhadap senior, gue jawab aja tuh pesan fb.
“Alhamdulillah, baik ka…”
Dan seterusnya sampai beberapa lama udah nggak ada inbox-nya yang masuk lagi pada hari itu.

Hari-hari selanjutnya tanggal 11 Februari 2013, dia ng-inbox gue lagi tuh yang intinya tuh orang minta nomor HP gue yang satunya lagi….
Wahahaha….
“Dasar cowok! kalo udah minta nomor HP pasti ada maunya nih”, kata gue dalam hati.
Tapi nggak buru-buru gue kasih tuh nomor HP gue yang kedua.
          Hingga lanjut tanggal 12 Februari 2013, dia nyolek gue di FB. Busyeettt dahh… spontan gue pun langsung inbox dia dan tanya kenapa kok nyolek-nyolek FB gue. Mungkin itu adalah hal biasa yang sering dilakukan remaja yang over update di FB kali ya?
         Kayak gue ini. Hehehe….
          Pertanyaan-pertanyaan serta ucapan-ucapan yang nggak penting pun terus diluncurkan pada gue pada hari itu dan juga pada hari-hari setelahnya. Mulai dari ucapan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, hingga disiplin makan pun tak lupa ia ingatkan. Tak terkecuali hal yang wajib pun seperti shalat lima waktu pake diingetin segala.
“Ya ampuuunn… perhatian banget sih nie senior gue”, kata gue dalam hati.
          Hingga pada suatu malam saat hujan turun dengan derasnya yang disertai angin ribut dan suara petir terdengar menyambar-nyambar. Dia mengirim SMS atau pesan singkat ke nomor HP gue yang dulu udah pernah gue kasih ke dia.
“Assalamu’alaikum”, begitu lah bunyi SMS darinya.
“Wa’alaikumussalam wr.wb. Maaf, ini siapa ya?”, balas gue ke nomor HP senior gue itu, yang saat itu gue belum tahu kalo itu nomor HP-nya. Tak lama kemudian dia membalas SMS dengan balasan yang singkat, padat dan jelas.
“Surya Widyodiningrat”
Itu lah SMS kedua dan terakhir darinya yang gue terima saat hujan deras turun malam itu.
“Menangis aku kenang saat diriku kau tinggalkan…. Hanya sakit yang aku kenang saat hatiku smakin dalam…. Tak tahu harus dimana kutemukan jawabnyaaa….”. Bunyi nada dering HP gue kalo ada telepon masuk. Yang waktu itu adalah lagu milik Davinci Band yang judulnya Rindu Merana, yang saat itu juga jadi harian musik favorit gue yang setiap hari gue putar.
          Kebetulan saat itu gue baru saja putus dari cowok reseh yang udah nyakitin gue terus-menerus. Gue pun mengangkat HP gue yang sedari tadi berisik melulu. Namun, suara orang di seberang telepon tak terdengar sama sekali, akibat hujan di luar rumah yang turun semakin deras.
“Hallo… Assalamu’alaikum? Ini siapa ya?”, jawab gue berulang kali. Namun, tetap tak terdengar suara orang di seberang sana. Setelah itu, gue tahu kalo yang menelpon itu ka Surya, senior gue. Lalu, gue mati kan telepon dari ka Surya si senior gue itu. Gue kecewa. Dalam hati gue bertanya,
“Kenapa dia telepon gue waktu hujan deras sih??!! Malam-malam lagi teleponnya. Coba aja kalo siang hari, lagi nggak hujan kan gue bisa ngobrol banyak sama dia!”, gue cemberut.

          Gue kirim SMS ke dia,
“Maaf kak sur. Tadi suara kakak nggak kedengaran kak. Soalnya di rumah lagi hujan deras”.
“Tet tot tet tot tot tot tot tot…. ”, bunyi HP gue pertanda ada SMS yang masuk. Gue lihat HP gue, ternyata ada balasan SMS dari kak Surya.
“Oh iyah, gak apa-apa de. Mungkin lain kali aja ya kakak telepon adee-nya.

Tadi suara ade juga gak kedengaran dari sini”.
          Waktu terus berjalan. Hari berganti hari. Siang dan malam silih berganti. Jarum jam pun bergerak berputar tak kunjung berhenti.
          Pada suatu malam, tepatnya pukul 20:03 WIB HP gue berbunyi,
“Tet tot tet tot tot tot tot tot…. ”, yang menandakan adanya SMS yang masuk ke nomor HP gue. Gak gue sangka SMS itu datang dari senior PRAMUKA gue sendiri si kak Surya, Pradana periode dua tahun sebelum gue menjabat jadi sie. Giat di Dewan Ambalan (DA). Yang isinya,
“Met malem adee… dee… Adee mau nggak jadi pacarnya kaka??”.
Spontan aja gue langsung kaget, gue nggak mengira bakalan kayak gini ceritanya. Si kakak nembak gue???. Ya,  walaupun sebelum itu gue udah ada rasa sama dia.
“Malem juga ka…
Hmmm… apa nggak salah kirim tuh ka?? Pasti kakak salah kirim pesan kan?”, balas gue.
“Nggak kok dee… kaka nggak salah kirim. Kakak beneran ngirim SMS ke ade”, balasnya lagi.
          Malam itu perasaan gue nggak karuan, gue nggak tenang. Antara percaya dan tidak, kak Surya suka sama gue. Dia nembak gue? Ya ampuunn…. Berkecamuklah pikiran dikepala gue. Merasa tak nyaman, gue pun langsung tidur.
“Cit cit cit…”, terdengar kicauan burung yang hinggap di pepohonan. Sinar matahari pagi menerobos masuk dari celah-celah dinding. Gue lihat sekeliling gue dan tak ada yang berubah sama sekali sejak gue tertidur tadi malam. Perlahan gue mulai bangun dari tempat tidur, berdiri da berjalan mendekati jendela serta membukanya perlahan agar si bungsu Nani yang masih terlelap dalam tidurnya tak terbangun. Gue tatap pemandangan di luar jendela kamar, gue hirup udara yang berasal dari pepohonan. “Hmmm… segar.. sejuk sekali udara pagi ini”, kata gue dalam hati seraya melemaskan otot-otot yang kaku karena tidur.
Matahari sudah mulai tinggi, gue harus segera berangkat ke sekolah guna menuntut ilmu. Sepulang sekolah, gue langsung mengirim pesan kepada kak surya.
“Maaf kak, semalam udah tidur. Aku ngga mau kaka ngungkapin perasaan kakak lewat HP. Kata orang, kalo cowok ngungkapin perasaannya lewat HP atau secara tidak langsung tuh tandanya si cowok nggak gentle!. Udah dulu ya kak. Selamat siang.  
     
          Tak sampai satu menit kuterima balasan SMS dari kak surya.
“Ok. Besok sabtu kakak pengen ketemu adee di SWIM Cafe ya dee. Kakak pengen ngobrol langsung ma adee.”, kuterima ajakannya itu. Singkat cerita, hari sabtu kami datang ke SWIM Cafe dan duduk bersama. Di sana, kak surya mencurahkan isi hatinya ke gue. Jantung gue berdebar sangat kencang, tulang gue seakan rontok, lemas tubuh ini saat itu. Dengan suara yang tenang dan senyum termanis yang gue punya, gue respon penyataannya.
“Aku butuh beberapa hari untuk berpikir kak”.
Senyum manisnya pun mengembang, tanda jikalau ia tak marah pada gue.
          Beberapa hari kemudian, pada hari jumat dimana hari jumat pada tanggal 22 Februari 2013 adalah  hari khusus untuk ekstakulikuler PRAMUKA di sekolah gue. Yang wajib diikuti oleh semua siswa kelas X tanpa pengecualian. Gue yang waktu itu menduduki kelas XI dan memilih mengikuti Organisasi PRAMUKA di sekolah dan diberi amanat menjadi sie. Giat PRAMUKA pun turut berangkat ekstrakurikuler tersebut. Saat bel tanda istirahat berbunyi, gue putuskan untuk menjawab pertanyaan kak Surya lima hari yang lalu tentang apakah gue mau jadi ceweknya. Dan gue jawab, “Ya”.
Kak Surya tidak paham apa maksud dari SMS gue itu. Kemudian dia bertanya, “ “Ya” maksudnya apa dee? ”
“mmm… ya maksudnya “Ya”. Kalo gak tahu ya udah berarti aku gak jadi “Ya” ”, begitu kata gue.
“hehee… makasih ya dee…        ”, kak Surya paham maksud dari jawaban SMS gue. Hari-hari terus berlalu, hubungan kami semakin hangat. Kami menjalani hari-hari dengan penuh canda tawa.
To be continue....